Laman

Tuesday, November 11, 2014

Global Culture Festival UNY 2014 #7


Selamat Pagiiiii
Tak terasa sudah hampir akhir tahun ya Sahabat Depp Holmes’s Story.
Pagi ini aku ingin cerita tentang Global Culture Festival UNY 2014 yang baru saja aku ikuti akhir minggu lalu. Langsung saja ya ...

            Tugas sebagai seorang tutor di Kantor Urusan Internasional dan Kemitraan UNY pun berlanjut. Kali ini kami diberikan tugas oleh KUIK UNY untuk menjadi panitia Global Culture Festival UNY 2014. Penyelenggaraan event ini sudah memasuki tahun ke tujuh. Semua tutor di KUIK UNY terlibat langsung dalam mengkonsep acara ini, kamilah yang diberikan tugas untuk mengkonsep, sekaligus yang melaksanakan agar event tahunan UNY ini bisa berjalan lanjar. Harapannya bisa lebih meriah dari tahun lalu.
            Tanggung jawab saya tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya, dulu saya menjadi bagian dari sie perlengkapan, tapi kali ini saya masuk di tim acara/sie acara bersama Ucup, Joan, Zakia, Abie, Sandra, Indi, dan Anis. WOW! Menantang! Tapi tak apa, justru inilah yang saya tunggu, akan ada banyak hal yang bisa saya dapatkan nantinya dan bisa dijadikan ilmu pengalaman yang tiada duanya. Sebagai bagian dari tim acara, saya langsung diberikan tugas untuk menjadi koordinator Parade GCF UNY 2014. Alhamdulillah, teman-teman mempercayaiku, untuk memegang Parade GCF UNY 2014 ini.
            Global Culture Festival UNY merupakan acara rutin tiap tahun yang dimiliki oleh UNY. Acara ini diselanggarakan oleh Kantor Urusan Internasional dan Kemitraan UNY, dibawah langsung Wakil Rektor IV UNY. Acara ini diadakan untuk memfasilitasi warga UNY, khususnya Mahasiswa Asing, Mahasiswa Daerah, dan Mahasiswa UNY liannya untuk bisa memahami tentang cross culture understanding dan sekaligus sebagai ajang bagi UNY sebagai kampus pendidikan untuk bisa ambil bagian untuk memajukan bangsa melalui serangkaian acara GCF UNY 2014 yang telah disusun. Tema yang diambil pada tahun ini adalah Promoting Education and Nurturing Diversity.

            Akan saya ceritakan ada apa saja di GCF UNY 2014 ini. Serangkaian acaranya yaitu meliputi: (1) International Students Go to School pada 24 Oktober 2014, (2) Festival Film 5 Benua pada 3-4 November 2014, (3) Parade GCF UNY 2014 pada 6 November 2014, (4) Day Festival pada 6 November 2014, (5) Night Festival pada 7 November 2014. Banyak sekali kan, dan tentunya semua itu sudah terlaksana dengan lancar, meriah dan sukses, yaa walaupun kami menyadari masih ada kendala di sana sini.
            Pada tahun ini ada dua acara baru di GCF, yaitu International Students Go to School dan Festival Film 5 Benua. Acara yang pertama bertujuan untuk mempromosikan sekolah-sekolah di Indonesia kepada mahasiswa asing UNY, sekaligus dari hal itu siswa-siswa Indonesia bisa mengambil banyak ilmu dan pengalaman dari para mahasiswa asing yang berkunjung ke sekolah-sekolah. Saya mengjukan almamaterku untuk bisa dikunjungi hihihi, yaitu SMA N 2 Banguntapan.
            Festival Film 5 Benua yang diadakan merupakan pemutaran film bertema pendidikan, bertujuan untuk bisa saling share antara mahasiswa asing dan mahasiswa Indonesia tentang pendidikan yang ada di berbagai negara. Harapannya mahasiswa UNY bisa membuka wawasanya tentang pendidikan di dunia ini.
            Parade GCF UNY, acara yang saya pegang merupakan acara kirab budaya yang diikuti oleh civitas akademika UNY, ada Jajaran Rekorat menaiki andong, Dosen menaiki kereta kelinci, Tim Mobil Listrik FT UNY, Tim Karnaval FT Busana UNY, Mahasiswa Daerah, Mahasiswa UNY, BEM, Marching Band CDB UNY, Bergodo, Gunungan, Hima, dan komunitas-komunitas lainnya. Kalau di Brasil dan Jember ada karnaval yang terkenal itu, UNY pun punya (kami sedang merintisnya agar bisa menjadi karnaval budaya yang terkenal). Rute yang diambil pada tahun ini berbeda dengan tahun lalau. Rutenya yaitu start di Rektorat UNY lalu melalui Pascasarjana UNY-Jl Gejayan-Jl Colombo-finish di GOR UNY. Alhamdulillah berkat bantuan semua pihak Parade ini berjalan lancar, sekaligus saya ingin minta maaf apabila acara yang saya pegang ini masih banyak kekurangan, semoga kedepannya bisa lebih baik lagi.
            Acara puncak Day and Night Fest, merupakan acara pameran makanan dari 30 Negara dan beberapa daerah di Indoneisa, ada pameran budaya juga, pentas seni dari UKM dan Hima di UNY, donor darah, book charity, dan ditutup dengan Night Fest berupa pertunjukan Drama Musikal dengan judul Kampung Halaman. WOW! Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar.
            Aku bersyukur mempunyai keluarga baru di GCF UNY 2014 ini, bukan hanya dari sie acara saja, tapi semua sie di GCF. Sepertinya aku akan merindu dengan mereka semua. Kerja keras kami kurang lebih tiga bulan terakhir ini benar-benar bisa kami nikmati, acara berjalan lancar, penonton yang hadir banyak. Kata sie KSK ticketnya sold out. Doa dan harapan kami semua agar event ini pada tahun depan bisa terselenggara dengan lebih meriah lagi dari tahun ini. Apakah saya masih terlibat lagi di tahun depan? Humm, biar waktu yang menjawab hahaha. Sudah ya Sahabat Depp Holems’s Story sekian dulu ceritaku, ow iya ini ada beberapa foto GCF UNY 2014.

Bantul, 11 November 2014, 6.36 WIB


Night Festival









Day Festival






Thursday, October 9, 2014

Bahasa di Media Massa Pasca Pilpres 2014

            Bagaimana kabar Sahabat Depp Holmes’s story saat ini? Pada tulisan kali ini saya akan membahas bahasa yang digunakan oleh media massa pasca pilpres 2014. Namun, tulisan ini tidak akan membahas masalah politik, dan segala macam halnya, ya walaupun akan sedikit bersinggungan tentang hal itu. Saya akan tegaskan bahwa maksud dari tulisan ini bukan untuk apa-apa. Semata-mata hanya tulisan seorang anak bahasa yang sedikit risih mendengar frasa yang digunakan di media massa untuk memberitakan ihwal perpolitikan di Indonesia saat ini. Langsung saja ya.
            “Salam tiga jari, persatuan Indonesia.” Itulah yang dikatakan Bapak Jokowi, presiden terpilih kita, selepas dirinya ditetapkan sebagai presiden terpilih Indonesia periode 2014-2019. Hendaklah setelah pilpres 2014 ini berlalu, mari kita saatnya menatap masa depan Indonesia. Jangan habiskan energi kita untuk terus berkutat soal pilpres 2014. Mari kita persatukan Indonesia ini, bangun bangsa ini, agar menjadi negara yang maju dan bermartabat.
            Jika kita melihat di televisi, khusunya program news kita akan menjumpai berita-berita atau kondisi perpolitikan Indonesia pasca pilpres 2014. Jika kita cermati mendalam, bahasa-bahasa yang digunakan dalam pemberitaan tersebut, kita akan menemukan dua buah singkatan baru. Singkatan itu adalah KIH dan KMP, singkatan ini berasal dari frasa Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih. Iya tidak? Pasti Iya. Di sini saya akan menganggap kalian sudah paham tentang apa itu KIH dan KMP, jadi saya tidak akan membahas mengenai hal itu. Kalau belum tau silakan searching sendiri di google yaa...
            Di sini saya hanya akan membahas penggunaan dua buah singkatan itu di beberapa media massa, khususnya televisi.

            Dari pengamatan saya, sebagian besar media masa menggunakan dua buah frasa atau singkatan di atas untuk menyebut masing-masing kubu yang saat ini berkuasa di perpolitikan Indoneisia. Silakan coba dicek, anda bisa cek secara sederhana, yaitu dengan melihat program news di tiap-tiap televisi. Lalu adakah perbedaan di antara media tersebut. Ya memang berbeda, karena setiap media memiliki bahasanya masing-masing sesuai ciri khas dan kebutuhannya. Dalam ilmu bahasa pun ini dijelaskan, bahwa setiap bidang tertentu memiliki bahasanya masing-masing. Namun ada yang membuat telinga ini risih.           
            Sepengamatan saya—semoga hanya sebatas pemilihan diksi untuk menarik perhatian saja, bukan maksud yang lain—ada salah satu media masa yang kadang menggunakan frasa berbeda untuk menyebut dua buah kubu yang menguasai perpolitikan di Indonesia. (Saya tidak akan menyebut media itu di sini, tapi silakan cermati sendiri di televisi kalian, pasti akan menemukannya). Kita tahu kebanyakan media massa menyebut dua kubu yang ada di perpolitikan Indonesia saat ini dengan sebutan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP).  Namun, media ini justru memilih diksi lain untuk menyebut  KIH dan KMP. Media massa ini, kadang-kadang, atau bahkan sering menggunakan sebutan “Koalisi Pendukung Jokowi” dan “Koalisi Pendukung Prabowo” untuk menyebut dua buah kubu tersebut.
            Ya memang tidak ada salahnya, karena itu merupakan kreativitas dan cirikhas tiap-tiap media. Tetapi menurut saya dua buah frasa yang digunakan ini memiliki nilai yang lebih negatif dibanding frasa yang kebanyakan digunakan oleh media lain. Mengapa? Hal ini bagi saya memiliki kesan bahwa pilpres ini belum selesai, padahal sesungguhnya sudah. Seolah-olah masih ingin mengajak masyarakat untuk kembali berkutat pada masalah dukung mendukung capres. Menurut saya ada maksud lain yang ingin dibangun dari pemilihan diksi ini. Maksud apa itu? Silakan kalian terka sendiri! Ya namun, ini hanya pendapat saya saja, semoga saya yang salah.
            Sejatinya marilah kita ini harus segera move on dari yang namanya pilpres 2014, kita bangun persatuan Indonesia. Seperti yang dikatakan Bapak Jokowi, “salam tiga jari, persatuan Indonesia.” Saat ini ya yang harusnya kita dukung adalah segenap bangsa Indonesia yang mau turun tangan (pinjam istilahnya Anies Baswedan, red). Bukan soal dukung-mendukung yang lain, apalagi dukung mendukung capres 2014 yang lalu, saya tegaskan lagi bahwa itu sudah berakhir! Tabik!

Bantul, 08 Oktober 2014.

Sunday, September 28, 2014

Polisi Bahasa


            Apa kabar Sahabat Depp Holmes’s? Aku berharap, kalian akan mengerti mengapa saya menamai judul tulisan ini “polisi bahasa” setelah membaca keseluruhan dari tulisan ini. Tulisan ini tidak akan membahas apa itu polisi bahasa, seperti apa kerjanya, dimana kantornya, dsb. Tapi semoga dari apa yang saya tulis ini, kalian akan mengerti esensi dari apa yang disebut “polisi bahasa”.
            Beberapa waktu yang lalu (mungkin sekitar setahun yang lalu), aku sempat membaca buku berjudul “111 kolom Bahasa Pilihan Kompas” tahun terbit 2006, buku ini berisi kumpulan esai kebahasaan dari beberapa penulis. Ada beberapa esai yang menurutku sangat cerdik sekali ulasannya, salah satunya mengulas tentang kata akademi. Tak disangka-sangka, permasalahan itu ternyata berada di sekitar kita, dan banyak dari kita yang tidak sadar. Sungguh esaiis bahasa yang peka. Esai itu membahas penggunaan kata akademi pada salah satu ajang pencarian bakat di salah satu stasiun tv swasta, ketika itu. Ternyata apa yang diulas pada salah satu esai itu, kini kembali muncul, bahkan bukan terjadi di satu stasiun tv, tapi dua.
            Sebentar ya Sahabat Depp Holmes’s, cukup disini dulu, kita bahas ini nanti lagi. Mari, kita beralih pada persoalan lain.
            Akhir-akhir ini juga aku sedang membaca beberap buku, salah satunya adalah Dunia Sophie karya Jostein Gaarder, sebuah novel filsafat. Sungguh, sangat membutuhkan waktu dan fokus yang ekstra keras untuk membaca dan memahami buku ini. Secara umum, buku ini berkisah tentang seorang gadis yang sedang belajar filsafat. Setelah membaca kedua buku itu, tiba-tiba saja di pikiranku ada sebuah koneksi yang menghubungkan. Ting! Oww iya ya, ternyata begitu!
            Mari akan saya hubungkan apa yang telah  kualami ini.

Saturday, September 27, 2014

Manusia dan Teks



            Apa kabar Depp Holmes’s Story? Saya berharap kalian semua baik-baik saja. Amin. Kali ini saya ingin menulis tentang manusia dan teks. Mungkin di antara teman-teman ada yang belum sadar bahwa hidup kita ini tidak bisa lepas dari yang namanya teks, iya gak? Ide tulisan ini terinspirasi dari beberapa kali kuliah dengan Ibu Dosenku yang nyentrik. Langsung saja yaa ...
            Teman-teman tentu tau kan, bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia saat ini sudah berganti. Kurikulum pendidikkan di Indonesia saat ini menggunakan kurikulum 2013. Banyak sekali pro dan kontra mengenai diberlakukannya kurikulum ini. Saya tidak akan membahas mendalam tentang kurikulum ini. Adapun tulisan yang akan saya bahas masih ada kaitannya dengan kurikulum yang baru saja diterapkan. Keterkaitan tersebut khususnya pada kurikulum yang ada dalam mata pelajaran bahasa Indoensia di sekolah.
            Saat ini siswa-siswa di sekolah belajar bahasa Indonesia dengan berbasis teks. Seperti dalam bahasa Inggris, siswa-siswa akan belajar mengenai berbagai macam jenis teks. Tentu tidak hanya belajar mengenai jenis teks saja, melalui isi yang terkandung dalam teks tersebut juga akan meningkatkan pemahaman siswa terhadap kehidupan. Berbarengan dengan itu, diharapkan kedepannya minat baca siswa Indonesia akan semakin meningkat. Karena kunci dari ilmu pengetahuan itu ya dari membaca.
            Mari kita lihat bagaimana fakta yang terjadi selama ini. Jika kita melihat skor rata-rata literasi membaca siswa Indonesia, posisi Indonesia berada di peringkat 60 dari 65 negara yang ikut di survei. Posisi Indonesia berada di 5 besar, terbawah! Sungguh miris. Survei ini dilakukan oleh PISA pada tahun 2012. Apa itu PISA? PISA merupakan Programme For International Student Assessment, yaitu studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun. Survei ini dokoordinasi oleh OECD (Organisation For Economic Coorporation and Development) yang berbasis di Paris, Prancis. Survei dilakukan tiga tahun sekali.
            Pasti akan ada banyak tanggapan mengenai hasil survei ini, mungkin ada yang bilang “halahh itu hanya angka, halah itu lembaga asing yang mungkin hanya mencari keuntungan, dan berbagai macam respon lainnya”, tapi bagi saya (sebenarya dosen saya yang telah membukakan mata saya akan hal ini), apa yang terjadi di atas merupakan kenyataan yang pait dan justru harus dapat memotivai kita, bangsa Indonesia, untuk mulai berbenah. Agar bangsa Indonesia ini dapat menjadi bangsa yang maju, dari mana itu bisa dimulai? Kalau kata Anies Baswedan, mulailah dari memperbaiki dengan turun tangan untuk pendidikan Indonesia. Lebih khususnya lagi kita dapat memulai dari meningkatkan minat membaca pada generasi muda. Karana dengan membaca, banyak sekali pengetahuan yang akan kita dapatkan. Seditik klasik, tapi harus terus didengungkan.
            Mari kita bicara pada persoalan lain, tetapi masih seputar bacaan dan teks. Menurut teman-teman, apakah hidup kita ini bisa lepas dari teks? Jika Sahabat Depp Holmes’s belum menyadarinya, coba lihatlah di sekitar kalian. Sejak dalam kandungan saja manusia itu sudah berhubungan dengan teks, lihat misal teks tentang hasil USG, kemudian saat lahir, kita butuh akta kelahiran, ini teks bukan? Tentu ini teks. Menginjak masa sekolah, waduhhh banyak sekali teks yang tidak bisa dipisahkan. Saat sudah lulus, tentu semakin banyak. Bahkan saat berbelanja saja kita juga tidak bisa lepas dari teks, lihat struk belanja kalian, kalau bukan teks, lalu itu apa namanya? Pertanyaanya, saat kita sudah meninggal, apakah masih berkaitan dengan teks? Jawabanya sudah pasti, masih. Ahli waris kita pasti akan mengurus akta kematian/surat kematian, untuk berbagai keperluan. Bagaimana sahabat Depp Holmes’s, ternyata hidup kita ini tidak bisa lepas dari teks ya. Maka dari itulah mengapa bahasa Indonesia yang berbasis teks ini perlu dipelajari.
            Dari berbagi hal yang telah saya utarakan di atas, kiranya, langkah Kementrian Pendidikan dengan mengubah kurikulum bahasa Indonesia yang berbasis teks ini sudah tepat. Walaupun masih banyak catatan di sana-sini, tapi harus kita apresisai dan kita dukung, bukan malah dijatuhkan. Tabik!

Bantul, 27 September 2014.