Laman

Monday, November 18, 2013

Abracadabra




Jika itu sabda Tuhan, suruhlah batu menggoyangkannya. Jika itu kebenaran, suruhlah pohon menyanyikannya. Jika itu kata bertuah, suruhlah binatang menuliskannya. Jika itu roh, suruhlah manusia membikinnya. Biarlah tahta terhampar dan perdana mentri bersujud, jika angin tak berembus niscaya udara di kamar pengap juga. Biarlah lari kuda menyibak di antara obor dan anjing-anjing menyalak, jika tak ada binatang buruan apa mau dikata. Hujan pagi hari, enak bagi pegawai. Hujan sore hari, enak bagi pengantin baru. Hujan malam hari, enak bagi maling. Soalnya jika batu bisa menggoyangkan, jika pohaon menyanyikan, jika binatang menuliskan, jika kita sanggup membikin segala-galanya, apa jadinya nanti. Semuanya bakal tersedia. Kita tidak bakal menunggu untuk hal-hal yang kita mampu.

(Danarto, 1987: 142)

Saturday, November 16, 2013

Tutor Volunteer dan Kecintaan terhadap Indonesia



            Apa kabar sahabat Depp Holems’s Story? Humm nampaknya sudah lama blog ini tidak ada postingan baru. Baiklah kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman yang baru-baru ini aku alami. Ya .. masih tentang dunia mahasiswa, tapi kali ini beda, karena pengalaman kali ini berkaitan dengan mahasiswa asing. Wow tentunya mengasyikan bukan, berproses dengan mahasiswa asing. Oke langsung saja ya, jadi begini ceritanya:
            Awalnya kira-kira tiga bulan yang lalu, tepatnya di Bulan Agustus, saat masih libur semester. Tidak sengaja saat itu aku iseng membuka laman UNY. Nahh terpampanglah sebuah pengumuman penerimaan tutor baru untuk Kantor Urusan Internasional dan Kemitraan UNY (selanjutnya akan disebut KUIK).  Seorang tutor ini bertugas selama satu tahun, kegiatanya adalah membantu urusan yang diselenggarakan oleh KUIK. Perlu diketahui bahwa kegiatan yang ada di KUIK sangatlah banyak, tentunya yang berhubungan dengan urusan internasional. Jadi mustahil kalau hanya staf pegawai KUIK saja yang menjalankannya, mereka harus membutuhkan bantuan.
            Tutor sendiri ada dua yaitu Tutor Volunteer dan tutor BIPA. Untuk tugasnya mirip dan bahkan dikerjakan bersama-sama. Namun yang menjadi beda hanyalah, tutor BIPA sekaligus menjadi pendamping mahasiswa asing yang belajar bahasa Indonesia di UNY.
            Setelah membaca pengumuman yang ada di laman tersebut, entah bagaimana, hati ini langsusng tertarik untuk mendaftar, cielahhh “hati tertarik” bro kayak lagi jatuh cinta saja. Tapi memang begitulah awal mulanya hahaha. Setelah menjalani serangkaian proses penerimaan akhirnya saya diterima sebagai tutor volunteer KUIK, bersama 14 teman yang lainya (Janu, Nining, Melati, Martono, Abie, Adi, Nana, Yolanda, Sandra, Ratih, Sarah, Ayu, Wanda, dan Astrid.)
            Tugas pertama yang kami terima setelah terdaftar sebagi tutor adalah mendampingi mahasiswa dari Chiang Mai University, Thailand. Mereka berkunjung selama hampir dua minggu di UNY untuk mengenal budaya Indonesia. Belajar budaya bersama mereka sangatlah mengasyikan, banyak sekali pengalaman dan pengetahuan baru yang saya dapatkan. Yahhh tentunya semakin meningkatkan rasa nasionalismeku terhadap Indonesia, tentang orangnya, bahasanya, alamnya, budayanya yaaa pokoknya semuanyaaaa “Aku Cinta Indonesia” hahaha.


mendampingi mahasiswa dari Chiang Mai University Thailand, belajar budaya Indonesia di UNY

            Tugas berikutnya yang kami terima sebagi seorang tutor adalah “Global Culture Festival”. Event tiap tahun yang dimilki UNY, yang melibatkan seluruh mahasiswa asing yang sedang menempuh studi di UNY. Kali ini bukan hanya tutor volunteer yang terlibat, tapi tutor BIPA juga terlibat, bahkan kami masih membutuhakan bantuan dari mahasiswa UNY lainnya. Yaa mengingat event ini sangat besar bro. Di selenggarakan 13-14 November 2013 di GOR dan Auditorium UNY (ada parade budaya, wisata kuliner, pertunjukan budaya, mini drama, dsb), event ini menyita banyak sekali waktu untuk persiapnya, tetapi hal itu bukan menjadi masalah, asal kita pintar membagi waktu pasti semuanya akan mengasyikan.
            Kebetulan atau entah apa, dalam kepanitiaan ini saya menjadi perkap, bersama Pak Koor Martono, dan kelima anggota lainnya (Janu, Abie, Adi, Egi, Yuda). Perkap? Ohh berattttt!! Itulah hal yang terlintas pertama kali dipikiran. Tapi tak apalah, berkat kerja keras bersama semua perlengkapan yang dibutuhkan dalam event ini berhasil kami laksanakan, mulai dari mencari sound system, panggung, lighting, kursi, memasang umbul-umbul, yahhh pokoknya semua hal yang berbau perlengkapan haha.

 bersama Abi dan Janu (gak kelihatan karena yang memotret)  saat memasang umbul-umbul untuk GCF
         
         Alhamdulillah rasa syukur kepada Allah SWT terucap begitu selesainya event ini, berkat kerjakeras dan doa segenap panitia #GCFUNY2013 dapat berjalan lancar. 4 budaya lokal Indonesia (Mentawai, Malinau, Bali, Sumsel) plus 28 Negara, Budaya, serta Rasa dapat dibungkus dengan apiknya dalam event ini.
            Dari Serangkaian kegiatan GCF ini buannnyak sekali yang saya dapatkan, mulai dari teman, budaya, bahasa, asyiknya bercengkerama dengan mahasaiswa asing, kebersamaan, pengalaman, pengetahuan, dan tentunya sekali lagi semakin membangkitan rasa cinta ku terhadap budaya Indonesia “Aku Cinta Indonesia” !!! yang mengesankan lagi adalah mereka (mahasiswa asing) ini ada di UNY salah satunya untuk belajar bahasa Indonesia, mereka sangatlah tertarik terhadap bahasa Indonesia, bahkan sudah fasih berbahasa Indonesia. Mereka saja jauh-jauh dari luar negeri untuk belajar budaya kita, mengeapa sebagian dari kita justru lupa terhadap identitas budaya sendiri, humm mari merenung?
            Nha demikianlah cerita yang dapat saya bagi kepada sahabat semua, kalau ingin tahu tentang kegiatan saya sebagai tutor di KUIK UNY tunggu postingan-postingan saya selanjutnya yaaa ... masih banyak sekali kegiatan yang akan saya lakukan sebagi seorang Tutor Volunteer KUIK UNY.

Bantul, 16 November 2013, 11.08


Thursday, August 1, 2013

Di Ilmu Bahasa pun Ada Tes "DNA"



           Nusantara dalam hal ini Indonesia merupakan sebuah bangsa yang besar. Negara yang membentang dari Sabang di sebelah barat dan Merauke di sebelah timur ini kaya akan beraneka ragam budaya, salah satunya adalah bahasa. Bahasa di Nusantara ini sangat baeragam. Tanpa mengesampingkan bahasa Indonesia, bahasa-bahasa daerah ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi pemiliknya.
            Menjadi menarik apabila berbicara mengenai hubungan kekrabatan anatar bahasa di Nusantara. Apabila manusia memiliki kerabat, lantas apakah mungkin bahasa juga memiliki kerabat? Pertanyaan inilah yang muncul ketika berbicara mengenai kekerabatan suatu bahasa.
            Lalu bagaimanakah cara mencari hubungan kekrabatan suatu bahasa? Jika dalam dunia kedokteran ada yang namanya tes DNA maka dalam dunia bahasa (linguistik) pun hal semacam ini bisa diterapkan. Caranya adalah menggunakan pisau bedah dalam dunia bahasa yaitu LHK. Kekerabatan bahasa ini masuk kedalam kajian Linguistik Historis Komparatif. Salah satu cara mengetahui hubungan kekerabatan suatu bahasa dapat melalui hubungan antar kata dalam setiap pasangan bahasa. Kali ini akan saya jelaskan sekilas mengenai hal ini.
            Kata-kata yang sama dalam sebuah pasangan akan dinyatakan sebagai kata kerabat apabila memenuhi salah satu ketentuan berikut ini: (1) Pasangan itu identik, pasangan kata yang identik adalah pasangan kata yang semua fonemnya sama betul. (2) Pasangan itu memiliki korespondensi fonemis, bila perubahan fonemis antar kedua bahasa itu terjadi secara timbal balik dan teratur, serta tinggi frekuensinya, maka bentuk yang berimbang antara kedua bahasa tersebut dianggap kerabat, selain itu dicari juga ko-okurensi nya. (3) Kemiripan secara fonemis, kemiripan secara fonemis ini berdasar pada artikulatoris yang sama, hal ini dapat dilakukan dengan meminta bantuan seseorang untuk menjadi pendengar dalam menguji kemiripan secara fonemis suatu kata. (4) Satu fonem beda, bila dalam satu pasangan kata terdapat perbedaan satu fonem, tetapi dapat dijelaskan bahwa perbedaan itu terjadi karena pengaruh lingkungan yang dimasukinya, maka pasangan itu dapat ditetapkan sebagai kata kerabat.
            Melalui empat ketentuan di atas, setidaknya kekerabatan suatu bahasa dapat diketahi presentase kognitnya. Sehingga dengan presentase kognit yang ada dapat dilakuakn penelitian lanjutan tentang kekrabtan bahasa, seperti glotokronologi, subgruping, dll.

Wednesday, July 3, 2013

Kritik Sastra Postmodernisme


 Kritik dalam pengertiannya yang tajam disebut penghakiman. Sebagai sebuah pertimbangan, kritik bermaksud untuk meninjau kembali hasil proses kreatif sastrawan dengan teks-teks yang telah dihasilkan.  Tinjauan tersebut yaitu postmodernisme yang menyuarakan semangat melawan, semangat mempertanyakan dan semangat mendekonstruksi. Postmodernisme melihat sebuah masyarakat yang teratur, rapi, konvensional perlu dipertanyakan kembali asas-asas keabsahannya. Dalam potsmodernisme, fenomena realis apa pun mesti dipertanyakan terkait dengan konvensionalitas. 
Sejak munculnya postmodernisme disebut sebagai gerakan di era kapitalisme lanjut, khusunya di bidang seni pada saat itu, aspek-aspek sentral yang diasosiasikan dengan postmodernisme dalam seni bertaburan meliputi antara lain pertama, adanya penghapusan batas antara seni dan kehidupan sehari-hari; kedua ambruknya pembedaan hierarkis antara kebudayaan populer dan kebudayaan elit; ketiga ekletisisme stilistik dan empat pencampuran kode.
Aspek yang pertama adanya penghapusan batas antara seni dan kehidupan sehari-hari yaitu melihat fenomena sejak zaman klasik. Kita taruh drama—yang sebagai karya seni—telah mendekonstruksi segala aspek kontinuitas kehidupan sehari-hari. Seorang perempuan yang memiliki peran sebagai tokoh antagonis atau bertabiat buruk, jika masuk ke dalam kehidupan sehari-hari wajib dipisahkan.  Dalam karya sastra, misalnya, hilangnya batas-batas yang tegas antara seniman sebagai pencipta dengan pembaca sebagai penerima, bahkan pengarang dianggap sebagai anonimitas (tidak ada nama). Dalam karya seni pun telah terjadi pergeseran dari keseriusan, dari kedalaman ke permukaan, ke permainan. Menurutnya, sehingga terjadilah sebuah ironi, parodi, interteks, dan pastiche. 

Tuesday, May 7, 2013

Mahasiswa dan dunianya


Humm sudah berapa lama ya tidak memposting di blog ini, hari ini baru ada mood untuk menulis tentang pengalaman ini. Mengenai organisasi mahasiswa dan segala macam yang bersangkutan dengannya. Jadi ceritanya begini:
            Sebagai seorang mahasiswa, rasanya kurang pantas jika rutinitasnya hanya kuliah pulang, kuliah pulang (kupu-kupu) saja. Predikat agen perubahan pun, juga dirasa kurang pantas apabila seorang mahasiswa hanya mencari nilai saat kuliah. Biar tidak dikata seperti itu, maka ada sebagian mahasiswa yang memilih ikut organisasi kampus, jadi aktivis katanya. Entah Hima, BEM, UKM, dan segala macam organisasi mahasiswa lainnya, baik di kampus maupun luar kampus. Bukan semata takut di ejek, tetapi dengan organisasi ini mereka mampu belajar tentang kehidupan bermasyarakat yang sesungguhnya. Karaena organisasi ini merupakan potret kehidupan di masyarakat nantinya. Kelak jika mahasiswa telah terjun ke masyarakat
            Sebagai mahasiswa tentu memiliki idealisme yang tinggi, agen perubahan, katanya. Idealisme ini tumbuh dan berkembang sesuai kepribadiannya masing-masing. Organisasi pun turut membentuk idealisme mahasiswa, ada yang kekiri-kirian, kekanan-kananan, agamis bukan main, dan tak jarang sampai lupa bahwa mereka ini masih berstatus mahasiswa. Saking asyiknya berorganisasi urusan kuliah pun terlupakan. Bukan terlupakan sih tapi terkadang melupakan diri, sehingga ada yang keteteran dalam kuliahnya. Alasanya beragam, ada yang capek, kurang fokus, harus tanggung jawab dengan amanah dari teman, dan masih banyak lagi.
            Ini hanya bebrapa contoh saja, di luar itu masih banyak sekali contoh aktivis yang lulus dengan predikat comloude. Ya, aktif di organisasi. Ya, berprestasi di akademik. Ini lah yang sehausnya ditiru.

Mendekati tanggal 28 April 2013.

            Setidaknya pengantar di atas sedikit memberikan gambaran tentang dua sisi mahasiswa. Karena keduanya salaing berhubungan, organisasi dan bangku kuliah.  Sesungguhnya sangat klasik membahas hal ini, namun menurut saya masih pantas untuk dibicarakan. Karena masih banyak juga mahasiswa yang terkadang bimbang memilih mana. Sebenarnya bukan pilihan, karena kedua-duanya melekat pada mereka sebagai mahasiswa, sekaligus agen perubahan.